8 Nov 2011

Sungguh..!! Aku sangat rindu..

Apa kabar Abang? Aku yakin, pasti sakit dikepalamu sudah tidak pernah kambuh lagi sekarang, Iyakan? Maaf ya bang, setelah lebaran tahun ini, aku gak pernah mengunjungimu lagi.

Ah, aku jadi teringat dengan porsi nasimu yang ku anggap berlebihan. Itulah bang, yang buat aku sering teringat tentang dirimu bahkan merindukanmu.

Aku rindu. Rindu sekali Abang. Aku merindukan tiap kali Abang bercerita tentang wanita yang selalu ingin kau pinang. Merindukan di saat aku menyemangati dirimu untuk terus gapai cinta dan citamu. Rindu juga saat kau melarang ku menjauhi temanmu sendiri. Padahal aku mempunyai rasa deg2an jika bertemu temanmu itu. Ada rasa marah padamu saat itu. Tapi aku tersadar apa yang kau katakan itu baik untukku. Dan itu semua sudah berlalu bang. Aku tak pernah mengingat itu.

Abang, tau kah kau saat ini aku membutuhkan nasehat darimu. Karena kaulah satu-satunya orang yang tak akan menghakimi aku. Dan tak akan menyalahi aku atas apa yang telah aku lakukan.

Kini aku sedang merasa jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Ya tepatnya tiga tahun yang lalu. Kau mungkin sudah melihatnya, tapi belum aku kenalkan.
Tentu dirimu bertanya-tanyakan dimana aku bisa berjumpa dengannya? Bukan tak mau bercerita padamu, tapi kurasa terlalu panjang jika aku ceritakan. Yang pasti aku bahagia punya perasaan ini. O ya, dia juga sering menyampaikan salamnya untukmu jika aku mengunjungimu.
Kalau saja kalian bisa berjabat tangan langsung ya...

Abang, tentu engkau masih ingat kata2 yang kuucapkan saat aku mengunjungimu sore itu satu bulan yang lalu. Kata2 yang kubisikan tepat di samping nisanmu sesaat sebelum aku melangkah pergi meninggalkan makammu. Ingatkan? Itulah rahasia besar dalam hidupku yang hanya sanggup kukatakan padamu. Karena aku tau, abang mengenalku lebih dari siapapun.

Tapi, ketika aku berbisik singkat sambil bersimpuh di depan makammu, hanya gundukan tanah berlapis rumput hijau terang serta aroma rumput basah bercampur wangi melati dari makam sebelah yang mendengar kala keresahan hati itu aku berceritakan. Aku bagai berada di tengah pematang sawah yang luas sekali. Tak bertepi dan tak berpegangan pada apapun. Aku coba memanggilmu, Abang. Tapi jawaban yang ada hanyalah sepi. Seketika semua itu membuat aku sadar bahwa tak ada tempat untukku mengadu lagi.

Ahh,,semakin rindu saja aku padamu…

Abang. Engkau tentu mengerti bagaimana rasanya menjangkau sesuatu yang sama sekali tak terjangkau? Ingin menyentuh sesuatu namun hanya angin yang kurasakan. Adakalanya, ketika aku putus asa, aku dihinggapi keinginan untuk menyusulmu. Mungkin dengan begitu rasa yang selama ini mengendap dan menetap dalam hatiku bisa lenyap sama sekali. Ya, setidaknya aku bisa membaginya denganmu Abang. Namun suara sayup2 dzikir yang berulang kuucapkan setiap berakhir sholat, menyadarkan aku atas  pikiran bodohku itu dan sekaligus menguatkanku.

Masalah yang sering menghampiriku kadang membuat aku lemah dan tak berdaya. Abang pasti kau tau, kalau sudah begitu aku hanya bisa menangis dan berusaha mencari jalan keluar itu sendirian. Aku juga tetap berusaha menerima takdirku apa adanya. Namun tak kusangka, berkali2 aku mencoba, berkali2 juga aku gagal. Banyak orang bilang bahwa itu adalah salah satu pembelajaran untukku agar aku bisa menjadi lebih dewasa.

Abang, kucukupkan suratku sampai disini. Surat yang mungkin tak pernah kau terima. Setelah aku berbagi denganmu, rasa yang menghimpit dadaku hingga sesak setidaknya telah sedikit berkurang sekarang. Meskipun  dalam hitungan hari bahkan jam, rasa gamang dan pedih akan datang kembali lagi kemudian. Semoga aku tetap sanggup bertahan ya, bang. Do’akan aku untuk itu.

Abang, sampaikan salam rindu dan peluk penuh cintaku untuk Kakek dan Nenek disana. Dan kumohon Abang tidak ceritakan rahasiaku ini pada mereka ya? karena aku tak ingin mereka khawatir padaku.
Hehehe, ya karena kau tau kan, aku juga kesayangan mereka.

-Peluk cium dan rindu dari aku, adikmu-

*R*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar