Apa kabar Abang? Aku yakin, pasti sakit dikepalamu sudah tidak pernah kambuh lagi sekarang,
Iyakan? Maaf ya bang, setelah lebaran tahun ini, aku gak pernah mengunjungimu
lagi.
Ah, aku jadi
teringat dengan porsi nasimu yang ku anggap berlebihan. Itulah bang, yang buat
aku sering teringat tentang dirimu bahkan merindukanmu.
Aku rindu. Rindu
sekali Abang. Aku merindukan tiap kali Abang bercerita tentang wanita yang
selalu ingin kau pinang. Merindukan di saat aku menyemangati dirimu untuk terus
gapai cinta dan citamu. Rindu juga saat kau melarang ku menjauhi temanmu
sendiri. Padahal aku mempunyai rasa deg2an jika bertemu temanmu itu. Ada rasa
marah padamu saat itu. Tapi aku tersadar apa yang kau katakan itu baik untukku.
Dan itu semua sudah berlalu bang. Aku tak pernah mengingat itu.
Abang, tau kah
kau saat ini aku membutuhkan nasehat darimu. Karena kaulah satu-satunya orang
yang tak akan menghakimi aku. Dan tak akan menyalahi aku atas apa yang telah
aku lakukan.
Kini aku sedang
merasa jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Ya tepatnya tiga tahun
yang lalu. Kau mungkin sudah melihatnya, tapi belum aku kenalkan.
Tentu dirimu
bertanya-tanyakan dimana aku bisa berjumpa dengannya? Bukan tak mau bercerita
padamu, tapi kurasa terlalu panjang jika aku ceritakan. Yang pasti aku bahagia
punya perasaan ini. O ya, dia juga sering menyampaikan salamnya untukmu jika
aku mengunjungimu.
Kalau saja kalian
bisa berjabat tangan langsung ya...
Abang, tentu engkau masih ingat kata2 yang
kuucapkan saat aku mengunjungimu sore itu satu bulan yang lalu. Kata2 yang
kubisikan tepat di samping nisanmu sesaat sebelum aku melangkah pergi
meninggalkan makammu. Ingatkan? Itulah rahasia besar dalam hidupku yang hanya
sanggup kukatakan padamu. Karena aku tau, abang mengenalku lebih dari siapapun.
Tapi,
ketika aku berbisik singkat sambil bersimpuh di depan makammu, hanya gundukan
tanah berlapis rumput hijau terang serta aroma rumput basah bercampur wangi
melati dari makam sebelah yang mendengar kala keresahan hati itu aku
berceritakan. Aku bagai berada di tengah pematang sawah yang luas sekali. Tak
bertepi dan tak berpegangan pada apapun. Aku coba memanggilmu, Abang. Tapi
jawaban yang ada hanyalah sepi. Seketika semua itu membuat aku sadar bahwa tak
ada tempat untukku mengadu lagi.
Ahh,,semakin
rindu saja aku padamu…
Abang. Engkau tentu mengerti bagaimana
rasanya menjangkau sesuatu yang sama sekali tak terjangkau? Ingin menyentuh
sesuatu namun hanya angin yang kurasakan. Adakalanya, ketika aku putus asa, aku
dihinggapi keinginan untuk menyusulmu. Mungkin dengan begitu rasa yang selama
ini mengendap dan menetap dalam hatiku bisa lenyap sama sekali. Ya, setidaknya
aku bisa membaginya denganmu Abang. Namun suara sayup2 dzikir yang berulang
kuucapkan setiap berakhir sholat, menyadarkan aku atas pikiran bodohku
itu dan sekaligus menguatkanku.
Masalah yang sering menghampiriku kadang membuat aku lemah
dan tak berdaya. Abang pasti kau tau, kalau sudah begitu aku hanya bisa
menangis dan berusaha mencari jalan keluar itu sendirian. Aku juga tetap
berusaha menerima takdirku apa adanya. Namun tak kusangka, berkali2 aku
mencoba, berkali2 juga aku gagal. Banyak orang bilang bahwa itu adalah salah
satu pembelajaran untukku agar aku bisa menjadi lebih dewasa.
Abang, kucukupkan suratku sampai disini. Surat yang mungkin tak pernah kau terima. Setelah
aku berbagi denganmu, rasa yang menghimpit dadaku hingga sesak setidaknya telah
sedikit berkurang sekarang. Meskipun dalam hitungan hari bahkan jam, rasa
gamang dan pedih akan datang kembali lagi kemudian. Semoga aku tetap sanggup
bertahan ya, bang. Do’akan aku untuk itu.
Abang, sampaikan salam rindu dan peluk penuh
cintaku untuk Kakek dan Nenek disana. Dan kumohon Abang tidak ceritakan rahasiaku
ini pada mereka ya? karena aku tak ingin mereka khawatir padaku.
Hehehe, ya karena kau tau kan, aku juga
kesayangan mereka.
-Peluk cium dan rindu dari aku, adikmu-
*R*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar